Jangan Racuni Anakmu dengan TV

11037704_1012093745487005_284538736867897970_n

Oleh: Aditya Akbar Hakim

SUNGGUH sangat kasihan ketika menjumpai anak-anak, tatkala ia membuka mata, maka yang dilakukan adalah nonton televisi, begitu terus setiap hari. Lho memangnya ada anak yang mempunyai rutinitas begitu?

Jawabanya tentu sangat banyak. Orang tua mempunyai alasan mengapa begitu toleran, bahkan lunak kepada anak terkait manajemen menonton televisi. Dengan dalih supaya anak-anak tetap tenang, sekaligus supaya tidak terlalu ikut campur urusan orang tuanya, yang kebetulan sedang memasak di pagi hari, dilanjut bersih-bersih rumah, atau memang orang tua sengaja memberikan hiburan ke anaknya karena ternyata si orang tua juga senang dengan aktivitas menonton televisi itu sendiri. Kalau untuk yang terakhir, artinya anak yang gandrung menonton televisi memang karena ada yang ditiru dan diteladani. Yakni orang tuanya.

Memangnya menonton televisi itu dilarang? Haram begitu ta? Siapa juga yang mengatakan dan menyimpulkan demikian. Saya hanya heran saja, kok begitu gampangnya orang tua menerapkan pola pengasuhan, atau lebih tepatnya pola penjagaan dengan menyediakan fasilitas hiburan berupa tontonan televisi kepada anak-anaknya.

Anak mana yang pasti akan diam, duduk manis betah berlama berjam-jam kalau sedari awal sengaja dengan diputarkan–dinyalakan televisi di hadapannya. Apalagi hiburan yang mampu membuat anak keranjingan untuk terus ingin mengulangi lagi, nonton lagi, kemudian menjadi rutinitas wajib adalah dengan nonton televisi.

Ingin bukti. Sekarang coba Anda amati, setelah Magrib, disaat seharusnya anak beraktivitas dengan belajar dan atau mengaji. Dewasa ini kondisi yang jamak terjadi malah di setiap rumah tidaklah demikian, jam segitu adalah waktu di mana televisi mesti sedang nyala. Bahkan jumlah penontonnya pun bukan hanya anak-anak, tetapi hampir semua seluruh anggota keluarga, mereka semua sedang khusyuk dengan tontonan yang sedang tayang di televisi.

Lantas apakah kita, yang mengaku sebagai para orang tua ini, tidak pernah mencoba menengok kira-kira konten di dalam tayangan televisi itu, apakah dapat dipastikan seluruhnya baik, atau malah sebaliknya?

Jika jawabanya adalah lebih banyak buruk daripada baiknya. Maka sudah seharusnya ada kontrol yang tinggi terhadap aktivitas anak yang hendak menonton televisi. Jangan sampai anak sendiri dan tanpa pengawalan–juga batasan saat menikmati televisi. Jikalau orang tua lalai pada urusan ini. Dampak yang akan ditimbulkan sungguh sangat ngeri.

Siapa pun pasti sepakat, bila seorang anak merupakan peniru kelas ulung. Apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka tonton itulah nanti yang mesti ia lakukan. Televisi memang tidak melulu berkontenkan informasi–tontonan yang tidak layak, ada satu dua tayangan yang secara isi juga kualitasnya sangat mendidik dan dapat dipakai sebagai media belajar anak.

Namun, karena masih anak-anak, mereka pasti belum mampu untuk membedakan mana yang baik dan tidak boleh ditiru. Untuk itu, orang tua mesti memberikan pendampingan terhadapnya ketika mereka di depan televisi, wajib ada kontrol yang ketat juga tegas terhadapnya. Jika tidak ingin racun tontonan yang kurang mendidik di dalam televisi nantinya menggerogoti kepribadian anak, maka berhati-hatilah.***

Penulis adalah GTT SMA Negeri 2 Lamongan. Kadiv Penulisan Sahabat Pena Nusantara, beralamat diadityaakbarhakim@gmail.com

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.