Ada Free Style dan Lomba Kopi di 9th Indie Clothing Expo

MEPNews.id – Indie Clothing Expo tahun ini digelar di Grand City Convex, Surabaya. Menginjak tahun kesembilan, pameran pakaian indie ini dilangsungkan 31 Maret sampai 2 April 2017. Harga tiket sekali masuk Rp 25.000, namun pengguna T-cash hanya perlu bayar Rp 20.000.

indie clothing expo 4

Ada juga pameran komunitas Vespa kuno.

Acara yang berlangsung siang-malam ini tidak hanya menampilkan brand clothing ternama, melainkan ada penampilan sejumlah band dan musisi. Juga ada unjuk aksi beberapa komunitas, antara lain Surabaya free style motorcycle. Pengunjung diberi kesempatan merasakan sensai dibonceng sepeda motor yang beratraksi mendebarkan.

Yang tak kalah menarik adalah lomba meracik kopi bernama Surabaya Brewers Competition (SBC). Tahun ini, Indie Clothing Surabaya untuk pertama kalinya mengadakan lomba racik kopi. Lomba ini diikuti 66 peserta dari seluruh Indonesia.

SBC ini mengusung standar nasional. Setiap peserta memiliki waktu 15 menit yang terdiri dari 5 menit persiapan dan 10 menit untuk meracik, menyeduh dan menyajikan kopi. Tampaknya gampang, namun tidak sedikit dari peserta yang gagal dalam meracik kopi.

Dimas, salah satu peserta SBC, mengutarakan menyeduh kopi itu butuh ketelitian. Mulai dari menyangrai, menghaluskan biji kopi, sampai menyeduh, butuh keahlian agar tercipta cita rasa kopi yang nikmat. Hasilnya dinilai 10 juri yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi. Peniliaan dilakukan berdasarkan dari aroma, rasa, keasaman, kekentalan, sampai keseimbangan.

indie clothing expo 2

Tempat nongkrong terbuka yang santai.

Ditampilkannya beberapa komunitas di 9th Indie Clothing ini guna menunjang dan mengundang anak-anak muda Surabaya agar dapat mengetahui brand-brand lokal, dan menunjukan kreativitas anak muda melalui clothing yang dijual saat event berlangsung.

Namun, ada kekurangannnya. Dewi, salah satu pengunjung, mengatakan, “Desain kecintaan pada budaya tradisional Indonesia jarang ditemui di beberapa stand.”

Dewi juga menyarankan, panitia jangan hanya mendirikan stand clothing. Seharusnya ada lebih banyak stand kuliner. “Pengunjung juga bisa lapar sehingga butuh asupan energi saat memilah baju. Masalahnya, hanya ada beberapa stand kuliner cita rasa lokal maupun internasional.”

(Marselinus Richardo dan Nizam Gondo)

Facebook Comments

POST A COMMENT.