Cak Nun: Orang Harus Punya Skala, Rentang Waktu

Catatan Helmi Mustofa (2)

Pekan lalu Cak Nun dan Kiai Kanjeng hadir dan dalam Dalam Sinau Bareng HUT Tamansiswa Mojokerto Ke-92. Banyak hal menarik menjadi renungan bagi dunia pendidikan Indonesia. Maka, MEPNews.id memuat dalam tiga seri. (yoski/red)

MEPNews.id — Cak Nun menyinggung ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yang amat masyhur, “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.”

Di KiaiKanjeng sendiri ada dua personel yang lahir dan besar di komplek dan lingkungan Tamansiswa Yogyakarta. Mas Jijid dan Mas SP Joko. “Ari-ari saya itu dipendam di komplek Tamansiswa, Mas,” kata mas Jijid kepada saya.

Kedua orangtuanya mengabdikan diri di Perguruan Tamansiswa. Baik Mas Jijid maupun Mas SP Joko juga sekolah di lembaga pendidikan Tamansiswa. Bagi Mas Joko, sejauh ini yang lebih banyak dikaji adalah Ki Hadjar Dewantara sebagai Pendidik dan Budayawan, tetapi kurang dieksplor Ki Hadjar Dewantara sebagai Jurnalis dan Santri.

Akan ada banyak hal bisa dikemukakan mengenai Ki Hadjar Dewantara dan Tamansiswa dalam konteks pendidikan nasional saat ini dalam view Adopsi dan Kontinuasi misalnya, dengan fakta bahwa Ki Hadjar Dewantara sebagai peletak dasar pendidikan nasional dan menteri pendidikan nasional pertama RI, tapi bagaimana jejak-jejak dan pemikirian Beliau dijaga, dipelihara, dan benar-benar dijiwakan ke dalam konsep pendidikan nasional merupakan pertanyaan yang selalu menarik dikaji.

Malam itu Cak Nun justru masuk ke pintu-pintu sederhana, yang muaranya adalah meneguhkan kepercayaan diri para insan pendidikan Tamansiswa.

“Apa sih bedanya taman dan kebon/kebun?”. Itulah salah satu pertanyaan pemantik agar para guru dan karyawan bisa melihat kembali jatidiri Tamansiswa. Umpamanya dari segi mana yang lebih berfungsi produktif. Ini mengundang respons yang beragam. Seorang JM melontarkan jawaban dengan ringan dan mengundang tawa, “Taman ada di depan rumah, sedangkan kebon ada di belakang rumah.”

Perwakilan Tamansiswa juga turut ambil bagian menguraikan. Sampai pada kesimpulan bahwa Tamansiswa adalah lembaga pendidikan yang sadar akan kodrat alam dengan kebudayaan dan kasih sayang. Poin Cak Nun sederhana saja pada akhirnya: Tamansiswa perlu menjadi taman yang kebun dan kebun yang taman, produktif dan indah sekaligus.

Acara berlangsung di Sport Center Tamansiwa Mojokerto. Sebuah lantai dua dari bangunan yang di lantai satunya berfungsi sebagai kantor guru dan administrasi. Ukurannya tidak terlalu besar untuk menampung jamaah Maiyah, dan mungkin hanya memuat para guru, karyawan, siswa, dan sebagian tamu. Selebihnya jamaah dan masyarakat umum disediakan layar-layar di luar dan di jalan. Secara keseluruhan acara berjalan dengan baik. Dari sisi kepanitian pun demikian, seluruh item terkawal dengan baik pula.

Tatkala Cak Nun belum tiba, karena faktor delay pesawat, awak KiaiKanjeng sudah siap memulai acara dengan serangkaian nomor-nomor Soran. Bergantian para vokalis KiaiKanjeng menyapa, berbicara, dan mengajak segenap hadirin untuk melantunkan shalawat. Sesudah nomor Pambuko, yang membuat sebagian anak-anak SMA Tamansiswa ini yang sebelumnya tampil bermusik dalam tembang-tembang Jawa memelototkan mata memerhatikan dengan penuh perhatian pada penampilan Bapak-Bapak KiaiKanjeng itu, para civitas Tamansiswa ini diajak menikmati nomor Jawa lama pepujian Asyahadu An-la Ilaha illallah. Lalu shalawat Ya Nabi Salam ‘Alaika, La Ilaha Illallah, dan tembang Padhangmbulan.

Salah satu nomor lagu yang dipersembahkan KiaiKanjeng adalah ABCD. Lagu bermuatan pendidikan, dan sering dieksplor oleh Cak Nun untuk menjangkau sejumlah kesadaran sejarah dan pendidikan itu sendiri. Di dalam komposisi lagu dan liriknya ada nama-nama hari, selain abjad-abjad. “Orang harus punya skala. Rentang urusan juga harus jelas. Dulu waktu Ki Hadjar Dewantara masih hidup, hari-hari pakai nama apa? Di dalam Jawa, ada putaran-putaran, juga ada weton, dan lain-lain. Apa beda antara huruf dan aksara?,” beberapa pancingan dimunculkan Cak Nun.

Itu juga membawa Cak Nun mengingat berbagai hal, misal tentang nama-nama desa yang kebanyakan diambil dari nama-nama pohon, yang setiap pohon itu punya fungsi dan artinya bagi kehidupan manusia. “Tamansiswa perlu pengetahuan tentang nama-nama itu. Mari meneruskan kekayaan simbah-simbah kita dari masa silam. Menghagai dan mempelajarinya supaya bisa meneruskan yang baik dari mereka.”

Nomor lain yang dihadirkan antara lain Ruang Rindu mengiringi siswa putri yang sedari awal ikut maju menjawab pertanyaan Cak Nun, Medley Jogja, Cinta Bersabarlah oleh Mas Alay di bagian awal, dan Fix You di bagian akhir Sinau Bareng oleh Mas Donni. Dan tentu saja beberapa nomor pengiring jabat tangan dan kepulangan hadirin, semisal Sing Jembar Atine.

Semua nomor KiaiKanjeng tadi, sebagaimana biasa dijadikan metode buat menyampaikan pesan-pesan. Dari uraian Cak Nun, salah satunya dipesankan agar Tamansiswa benar-benar mengembalikan kelas kepercayaan diri manusia Indonesia. Ini sejalan dengan tatkala usai lagu Ruang Rindu Cak Nun menerangkan ada filosofi/prinsip, ada ilmu, dan ada aplikasi. Dalam frame itu, Cak Nun bertanya, apakah negara benar-benar membangun manusia. Dari situ, para guru diajak meneguhkan diri: sekolah itu yang penting prestasi sekolah atau pendidikannya. Kalau prestasi sekolah nanti akan berlanjut menjadi prestasi dinas pendidikan. Sekali lagi, Cak Nun mengisyaratkan pentingnya kita semua menjaga roh dan substansi pendidikan manusia.(Caknun.com)

 

Facebook Comments

POST A COMMENT.