The Power of Love

Oleh: M. Yazid Mar’I, M.Pd.I
Seharian ini ayah dan ibu Aya tampaknya harus mengerjakan kewajiban tambahan. Jika di hari-hari biasa, ayah cukup mengantarkan dan menjemputnya sekolah, dan ibu selalu bangun pukul 03.00 untuk mendekatkan sang Kholiq, mencuci dan menyiapkan sarapan pagi untuk kedua buah hatinya, dengan harapan baju adik dan kakak tampak bersih dan rapi serta keduanya tenang dalam menerima petuah-petuah dari ustadzah karena lambung telah terisi. Tapi hari ini ibu harus bolak-balik mencarikan tugas sekolah untuk si bungsu Aya, membeli kertas manila, lem, dan membantu mendownlod sebuah iklan selamatkan bumi “go green”, memfoto copy,dan membantu menempelnya. Belum lagi harus mengantarkan ke temannya untuk tugas kelompok. Semua dilakukan oleh ibu dengan tanpa sedikitpun mengeluh, karena ayahnya harus menjemput kakaknya untuk persiapan munaqosah hafalan juz amma dan surat Ar Rahman, lalu mengantarkan kakaknya belajar kelompok di rumah teman, dan menyimak kakaknya untuk Murojaah.
Tiba-tiba meluncur dari lisan si bungsu begitu deras bak air bah, hingga merobohkan dinding-dinding hati. Buk Ibuk, dik Aya meropotkan ibuk dak? Ibuk mencuci, memasak, menyetelika baju adik, capek ya buk? Tanpa terasa air mata ibu meleleh, mengucur deras, membasahi kerudungnya. Dengan pelan dan penuh kelembutan, sang ibu harus dan harus menjawabnya. Ibuk ihlas adik, asal adik selalu sayang ibu, sayang ayah, sayang kakak. Adik juga selalu meningkat kebaikkanya, shalatnya, belajarnya, rajin bangun pagi, dan ngerti ibu saat ibu lupa memberikan uang saku, ibuk bangunkan adik saat adik belum shalat subuh, ibuk nyuruh adik cepat-cepat mandi, sarapan pagi, berpakaian dan berangkat sekolah. Dan mungkin juga ibu terlambat nyiapkan sarapan pagi, atau ibuk harus cepat-cepat berangkat ke sekolah, karena ibuk harus mendidik adik-adikmu di PAUD yang telah dipercayakan ibuk, agar nantinya bisa menulis, membaca, menghitung, mengetahui Tuhannya, menyayangi keluarganya, seperti adik. Dan yang lebih penting agar nantinya dapat membantu memudahkan ibuk, ayahmu, serta menemanimu, menemani kakakmu kelak di surga. O…. gitu ya buk! Sambil mengusap air mata ibu dengan tisu.
What … ? mengapa semua pertanyaan itu muncul. Whay ….? Bagaimana semua terjadi, akankah terjadi begitu saja pada seorang anak? Jawabnya tentu tidak. The Power of Love, Kekuatan cinta keluargalah yang tentunya pertama dan utama yang membentuk prilaku anak. Keluargalah teladan utama yang didengar, dan diamati, dan selanjutnya ditiru anak ditiap detik, tiap menit, tiap hari, dan tiap detak jantung orang tua. Apa yang diberikan anak sangatlah penting untuk difikirkan! Darimana semua didapatkan? Untuk berpakaian, untuk makan,dan untuk semuanya. Karena tidak ada sesuatu tanpa sebab dan tanpa akibat, tiada asap bila tak ada api. Apa yang dimakan, diminum anak-anaknya tentu sari-sarinya akan dialirkan ke seluruh pembuluh darah menuju ke otak, hati, dan seluruh anggota badan, demikian halnya pakaian yang dipakai yang menutupi jasad si anak tentu tak kan peranah lepas dari ruh anak. Bukankan Allah juga telah berfirman dalam Al Qur’an Surat At Tahrim ayat 6 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.
Perkataan Alqur’an disini adalah fi’il Amar yaitu suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh kedua orang tua terhadap anak-anaknya. Kedua orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anaknya. Karena sebelum orang lain mendidik anak ini, kedua orangtuanyalah yang mendidik terlebih dahulu. Dalam hal tugas dan tanggunjawab ini juga dijelaskan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya: “Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban dari kepemimpinanya itu. Seorang imam adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanya, seorang suami adalh pemimpin dalam rumah tangganya (keluarga)nya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanya, seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawan atas kepemimpinanya. Dalam riwayat Muslim disebutkan, dan seorang istri adalah pemimpin dalam suami dan anaknya, dan dimintai pertanggungjawaban dari kepemimpinanya”.
Bila kita telaah secara mendalam, memang benar apabila tanggungjawab pendidikan ditangan kedua orang tua dan tidak dapat dipikulkan kepada orang lain. Kecuali apabila orang tua merasa tidak mampu melakukan sendiri, maka bolehlah tanggungjawab diserahkan kepada orang lain, misalnya dengan cara disekolahkan. Jadilah yang utama dan pertama orang tua mendidik anak-anaknya, karena kita yakin anak-anak kita adalah emas bagi kita yang akan meneruskan perjuangan kita.***
M. Yazid Mar’I, M.Pd.I: Guru PAI MI Salafiyah Prambontergayang Kec. Soko Kab. Tuban, tinggal di Bojonegoro

Facebook Comments

POST A COMMENT.