Unud Luncurkan Buku Wisata Kuliner Ubud

Prof. I Gde Pitana menyerahkan buku kepada Prof. Adrian Vickers dari University of Sydney dan I Made Sudjana dari Sekolah Tinggi Pariwisata Internasional Bali. (Foto Agus Darmika)

MEPNews.id – Program Studi Magister kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana (Unud) meluncurkan buku ‘Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud’ karya Putu Diah Sastri Pitanatri SST.Par dan Prof. I Nyoman Darma Putra. Rilis berita di unud.ac.id edisi 17 Maret 2017 mengabarkan, perluncuran dilaksanakan 15 Maret di Aula Gedung Pascasarjana Unud Denpasar oleh Prof. I Gde Pitana, Deputi Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata. Acara ini dihadiri sekitar 200 peserta, terdiri dari mahasiswa, dosen, dan kalangan umum. Hadir juga Prof. Adrian Vickers dari University of Sydney, penulis buku Bali; A Paradise Created.

udayana penulis1

Putu Diah Sastri Pitanatri

Prof. Pitana mengungkapkan, “Buku ini muncul tepat waktu, saat Kementerian Pariwisata gencar mempromosikan kuliner sebagai salah satu daya tarik wisata Indonesia. Buku ini ditulis dengan data yang kaya dan argumentasi yang meyakinkan. Ini akan menjadi rujukan penting kaum akademisi dan mahasiswa pariwisata.”

Dalam kuliah umumnya, guru besar pariwisata Unud itu menyampaikan kuliner merupakan segmen pasar pariwisata yang sedang berkembang. Tahun 2019, pemerintah menargetkan 5,4 juta wisman untuk menikmati wisata kuliner. Berdasarkan data UNWTO, 15,80 % dana wisatawan digunakan untuk makan dan minum. “Potensi pendapatan dari wisata kuliner cukup besar,” ujarnya.

udayana penulis 2

I Nyoman Darma Putra

Tiga jenis aktivitas wisata kuliner yang digemari wisatawan adalah mengunjungi food festival, ikut food tours, dan belajar memasak (cookery workshop). Pitana menyebutkan bahwa di Bali ada food festival yang digelar di Ubud.

Pitana menyampaikan, makanan merupakan ikon bangsa yang efektif untuk promosi pariwisata. “Kalau mendengar pizza, orang langsung ingat Italia. Sup tom yum, mengingatkan orang pada Thailand. Sushi identik dengan Jepang.”

Indonesia ini kaya kuliner. Pemerintah berusaha mendapatkan ikon kuliner untuk promosi pariwisata. Sudah diajukan 30 ikon. Pemerintah akan memilih lima sebagai ikon kuliner untuk promosi Indonesia. Sudah ada empat calon yaitu sate, soto, rendang, nasi goreng. ”Masih kurang satu, mohon diberikan masukan,” cetus Pitana.

Tentang popularitas makanan Indonesia, Prof. Pitana mengutip peringkat yang dikeluarga CNNGo (cnn travel) yang merilis 50 makanan terenak di dunia. “Yang mengagumkan, rendang masuk peringkat pertama terenak, nasi goreng nomor dua, sate urutan ke-14 terenak,” ujar Pitana.

Dalam rencana pengembangan lima tahun sejak 2016, pemerintah mengembangkan lima destinasi wisata kuliner unggulan setiap tahun. Tahun 2016, misalnya, pengembangan destinasi unggulan di Jogya, Solo, Semarang, Bali, dan Bandung. Tahun 2017, juga dikembangkan lima tempat lainnya. Demikian dilanjutkan sampai 2019.

Mantan Kadis Pariwisata Provinsi Bali itu menyebutkan, Bali ditargetkan menjadi the best gastronomy destination in Asia tahun 2018. “Potensi Bali besar. Sekarang ini saja sudah bisa mencapai the best wedding destination and spa in Asia. Untuk kuliner, kita optimistik bisa. Kita harus bangga dengan kuliner lokal,” tambahnya.

Dalam sesi tanya jawab, Adrian Vickers menyampaikan apresiasi terhadap buku yang diluncurkan karena mengedepankan tokoh lokal dalam pengembangan kuliner Ubud. “Kalau bisa muncul penulis buku kuliner dan chef dari orang lokal,” ujar dosen University of Sydney itu.

Facebook Comments

POST A COMMENT.