Sate…. Hmm….. Enak Nian

MEPNews.id – Sudah, lah. Tak perlu banyak komentar tentang makanan yang satu ini. Sate itu enak. Titik. Keenakan sate ini sudah kondang tersebar ke mana-mana.

Lonely Planet makin menambah popularitas sate. Situs traveling ini pada awal 2017 menempatkan sate ke dalam daftar 10 makanan terlezat di dunia yang ramah anak. “Sate tak hanya makanan yang memiliki cita rasa lezat, tapi sate juga aman dikonsumsi anak-anak,” begitu diulas situs itu.

Selain sate, Lonely Planet juga memasukkan makanan lain yaitu antojitos dari Meksiko, rice and beans dari Karibia, crepes dari Prancis, cacio e pepe dari Italia, meze dari Turki, couscous dari Afrika Utara, biryani dari India, xiaolongbao dari Cina, dan pho dari Vietnam.

sate-2Di Indonesia, sate sudah menyebar ke berbagai penjuru dan masing-masing daerah memiliki kekhasan. Di pulau Jawa, ada sate Ponogoro berbumbu kelapa dari Jawa Timur, sate Tegal, sate ambal di Kebumen, sate buntel di Solo, sate kikil bacem di Yogyakarta, sate maranggi dari tanah Sunda, sate usus dari Sukabumi, sate sapi bumbu tauco, sate ati ampela di Jakarta.

Dari Pulau Madura, banyak sate disebarkan olah kaum perantau. Ada sate kambing bumbu santan, ada sate ayam bumbu kacang dan kecap, dan ada sate lalat yang bahannya sama sekali bukan dari daging lalat tapi daging ayam yang dipotong kecil-kecil seperti lalat.

Di pulau Sumatera ada sate Padang  atau sate Pariaman yang berisi jeroan, ada sate Mameng di Medan, sate Matang khas Bireuen di Aceh, sate pentul ikan tenggiri yang khas Sumatera Selatan, sate manis dari Palembang. Di pulau Kalimantan ada sate Banjar, ada sate udang dan sate manis dari Pontianak.

Di pulau Sulawesi ada sate garo dan sate belanga manis pedas dari Manado, ada sate kerang pokea khas Kendari. Di kepulauan Maluku ada sate udang bumbu asam dan sate bia merah. Di Papua ada sate ulat sagu dan sate rusa. Dari Nusa Tenggara ada sate pusut. Ada juga sate sampi dan sate penyu dari Bali. Juga ada sate bebek bumbu bali, dan masih banyak lagi.

Bahannya juga bermacam-macam. Dari nama-nama sate itu, orang bisa tahu bahannya dari daging kambing, ayam, burung dara, sapi, udang, kerang, bebek, rusa, ulat sagu, bekicot, anjing, dan babi. Bahkan, ada sate vegetarian gaya makanan moderen di kota-kota besar atau sate kere (berbahan tempe gembus) dari Solo. Ada juga sate torpedo dari testis kambing.

Sate dari Madura enak dengan daging kambing dan ayam. Sate dari Padang dan Pariaman dengan irisan jeroan yang direbus lalu dibakar. Sate dari Tegal terkenal karena daging kambing muda. Bumbu sate Padang berkuah warna kuning dan pedas. Bumbu untuk sate Madura dan sate dari Makassar sama-sama mengandung kacang dan kecap.

Konon, sate berasal dari tanah Jawa. Pada tahun 1404 M (808 H), ketika Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) menyebarkan agama Islam, salah satu ibadahnya adalah menyembelih kambing kurban. Setiap Idul Adha, orang-orang Islam menyembelih kambing sehingga jumlah daging melimpah.

sate 3

sate padang

Kala itu, ada santri bernama Satah yang menjadi juru masak keluarga Sunan. Satah terbiasa meraut bambu untuk keperluan membuat anyaman keranjang dan perlengkapan rumah tangga. Sebagian rautan bambu ia gunakan untuk menusuk daging kambing lalu membakar di atas bara. Cara ini diambil dari kebiasaan orang Arab membuat kebab, tapi dengan ukuran lebih kecil. Inovasi Satah diterima Sunan dan masyarakat setempat. Orang yang berguru ke Sunan Gresik juga bisa menikmati tusukan daging bakar ala Satah. Lalu dikenal istilah ‘daging Satah’ yang pada zaman Belanda disebut ‘sateh’ dan belakangan berubah menjadi ‘sate’.

Seiring koloninasisi Belanda, orang-orang Jawa disebar ke seluruh daerah jajahan sebagai tentara bayaran, tenaga kerja atau tawanan. Maka, budaya sate juga turut tersebar ke seluruh wilayah yang kini menjadi Indonesia, ke Afrika Selatan (ada berbekyu ayam bernama sosatie), Malaka, Tumasik, Suriname (ada sate dengan bumbu kelapa seperti sate Ponorogo), Kaledonia Baru di Pasifik (ada sate ayam campur), ke Belanda, dan tempat lain.

Ada juga yang menyebut, sate dari Cina. Alasannya, kata ‘sate’ berasal dari istilah sa tae bak (三疊肉) dalam bahasa Minnan. Namun, teori ini diragukan. Sa tae bak secara harfiah berarti tiga potong daging. Padahal, secara tradisional, sate rata-rata lebih dari empat potong kecuali yang jenis lilit satu potong. Namun, orang Cina di Indonesia mengembangkan sate sesuai selera mereka sendiri. Antara lain ada sate babi saus nanas atau kecap dengan tambahan bumbu rasa seperti daging panggang khas Cina.

Di Malaysia, terutama di Melaka ada kawasan yang terkenal dengan satay celup. Tempat yang sangat populer ini menyajikan sate dengan sup isi okra, tahu, sosis, daging ayam, udang, bok choy, dan lain-lain. Di Singapura, ada Boon Tat Street yang jika malam hari ditutup untuk menjadi sentra kuliner terbuka. Karena banyak yang jual sate, tempat ini dijuluki Satay Street. Di Thailand, sate juga banyak ditemui. Di Bangkok, ada Pok Pok Satay atau pork sateh (sate babi) dengan bumbu kelapa.

Meski sate sudah mendunia, penulis kuliner Jennifer Brennan, dalam buku Kitchen Daily (1988) menyebutkan, “Meskipun Thailand dan Malaysia menganggap hidangan ini adalah milik mereka, tapi tanah air sate yang sesungguhnya di Asia Tenggara adalah Jawa. Di sini sate dikembangkan dari adaptasi kebab yang dibawa oleh pedagang muslim ke Jawa.”

(Teguh W. Utomo)

Facebook Comments

POST A COMMENT.