Ke Taiwan, Jangan Lupa Incip Tahu Bau

MEPNews.id – Penganan ini sangat populer di seantero jagad, terutama Asia. Orang Indonesia menyebutnya tahu, orang Cina menyebutnya dòufu (豆腐), orang Burma menyebutnya pèpya, orang Vietnam menyebutnya đậu phụ (豆腐), orang Thai menyebutnya taohu (เต้าหู้), orang Korea menyebutnya dubu (두부), orang Jepang menyebutnya tofu (豆腐), orang Melayu menyebutnya tauhu, orang Filipina menyebutnya tokwa, orang Khmer menyebutnya tauhu (តៅហ៊ូ).

Cara penyajiannya juga bermacam-macam. Ada yang mengolahnya sebagai lauk dengan digoreng, ditim dengan uap air panas, diolah bersama sayuran dalam sup, digerus jadi bulatan lalu digoreng, bahkan dimakan dengan lombok mentah. Semua ini menunjukkan popularitas tahu di berbagai penjuru Asia.

Di Taiwan, makanan ini juga menjadi cemilan populer. Beragam cemilan dòufu dijual di pasar. Namun, ada olahan dòufu khas yang hanya dapat ditemukan di Taiwan. Namanya Chou Doufu (臭豆腐). Secara harafiah, nama itu diterjemahkan dalam Bahasa Inggris sebagai Stinky Tofu yang artinya kira-kira “Tahu Bau”. Ya, tahunya bau banget.

Makanan ini dapat dengan mudah dijumpai di gerai-gerai kuliner di Taiwan. Ada beberapa macam penyajian Chou Doufu. Pertama, dòufu digoreng kering lalu disajikan dengan saus yang terasa manis dan asin serta ditambahkan sayuran kubis dan wortel yang sudah diproses seperti acar. Kedua, dòufu direbus dengan sup. Ketiga, dòufu ditusuk dengan stik seperti sate dengan olesan saus manis dan asin plus acar.

Rasanya? Mirip tahu gejrot khas Jawa Barat. Hanya, Chou Doufu ini menggunakan jenis tahu yang berbeda. Teksturnya sih sama, hanya memang benar-benar berbau busuk. Jika belum terbiasa, rasa busuknya memang aneh. Tapi, setelah mencoba, ternyata rasanya enak. Saya pun ketagihan untuk mencoba lagi dan lagi.

Chou Doufu ini dijual dengan harga bervariasi dari 40-50 NTD atau setara 17.000 – 21.000 rupiah. Biasanya kita dapat dengan mudah menjumpai penjual Chou Doufu di Pasar Malam (Night Market) atau pasar pagi. Beberapa penjual Chou Doufu di ibukota Taipei juga menjajakan dagangan berkeliling menggunakan mobil pick-up pada malam hari.

Karena penjualnya kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris, saat membeli cukup dengan bilang, “I fen (satu porsi).” Biasanya penjual bertanya, “Yau la ma?” untuk mengatahui apakah pembeli ingin rasa pedas. Saya tinggal mengangguk untuk suka pedas atau menggeleng untuk tidak mau pedas. Selesai transaksi, jangan lupa ucapkan, “Xie xie” alias terimakasih.

Sejarah terciptanya Chou Doufu, menurut situs TaiwanBubble.com, bermula dari perjuangan pelajar bernama Wang Zhi He pada zaman dinasti Qing di Cina daratan. Konon, Wang pergi ke Ibu Kota untuk mengikuti ujian kerajaan. Sayang, ia gagal. Untuk menyambung hidup, ia berdagang dòufu. Dagangannya tidak selalu laris, dan beberapa tersisa. Pada suatu saat, ia mengolah dòufu sisa semalam itu dengan garam dan menjemurnya di bawah terik matahari hingga mengalami proses fermentasi berbau busuk. Nah, alangkah beruntungnya ia karena justru Raja malah menyukai dòufu busuknya. Bahkan, Raja menamai makanan itu sebagai “green imperial cube”.

Selain dapat menikmati olahan Chou Doufu dalam bentuk siap makan, kita juga bisa beli yang belum diolah. Tapi, siap-siap saja menahan baunya saat mengolahnya dapur. Sesuai dengan julukannya ‘tahu bau’, dòufu mentah ini berbau sangat menyengat.

Jadi, jika berkesempatan berkunjung ke Taiwan, jangan lewatkan mencoba jajanan yang aromanya menusuk hidung namun enak di lidah ini.

(Sarah Ana)

Facebook Comments

POST A COMMENT.