Cak Nun: Kalau Mengikuti Pancasila, Tuhan Adalah Ownernya

MEPNews.id- Penutupan Raker Kementerian Perdagangan di Hotel Borobudur, Rabu (22/2) malam terasa beda dengan biasanya. Kehadiran Cak Nun dan Group Kiai Kanjeng, membuat suasana segar.

“Secara out of box thinking oleh Cak Nun adalah bahwa kita ini terlanjur Pancasila. Kalau mengikut Pancasila, Tuhan adalah owner atau pemilik segala sesuatu, sehingga hitung-hitungan kita pun beda dalam melihat segala sesuatu. Primer-sekundernya berubah dari yang selama ini kita gunakan,” tegas Cak Nun.

“Gara-gara” Tuhanlah dalam sila pertama Pancasila, maka ada konsep adil dan beradab pada sila kedua. Lalu Cak Nun sekilas menguraikan bahwa sila-sila itu adalah urutan saling menyebabkan dengan sebab utama dan pertama adalah Tuhan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, kalau keyakinan dalam bersila pertama tidak benar dan tidak sungguh-sungguh, maka tak akan mungkin sampai pada mampu mewujudkan sila kedua, dan begitu seterusnya.

“Kayaknya akhir-akhir ini Tuhan malah jadi komoditas,” gelitik Cak Nun yang kemudian “memfetakompli” secara apik logika hadirin dengan mengungkapkan, “Karena sudah telanjur Pancasila, ya kita harus benar-benar bertanggung jawab dan sungguh-sungguh dengan Pancasila.”

Memperkenalkan KiaiKanjeng, Cak Nun mengatakan bahwa ini adalah pergelaran ke 3979 dari kelompok yang aslinya tak punya nama, sebab KiaiKanjeng adalah nama gamelan yang digubah dan dipakai mereka. Sejak Pak Harto turun, Cak Nun dan KiaiKanjeng lebih banyak menemani masyarakat di desa-desa atau kampung-kampung dan menjauh dari hiruk-pikuk Indonesia.

“Maka saya diundang ke sini ini bingung luar biasa yaitu bingung mau pakai baju apa. Kalau kotak-kotak nanti dikira Pro Ahok, kalau baju putih-putih nanti dikira Pro Habib. Akhirnya saya pakai baju seperti ini. Hem panjang biru muda dan bergaris-garis tipis. Jadi, saya memilih baju ini merupakan keputusan politik yang penuh pertimbangan,” papar Cak Nun yang langsung direspons tepuk tangan oleh hadirin karena menangkap muatan yang dimaksud Cak Nun.

Cak Nun mengapresiasi metode rapat di Raker ini. “Saya senang sekali dengan metode rapatnya, karena pemerintah sebenarnya bukan atasannya rakyat. Mindset kita seharusnya memang bukan atas-bawah, tapi depan-belakang. Banyak sekali dalam hidup ini yang seperti itu prinsip dan konteksnya. Khalifatullah itu artinya manusia yang berada di belakang Tuhan.

Pak Enggar (Menteri Perdagangan,red)  sebagai pemimpin pun juga kadang di depan kadang di belakang. Filosofi Ki Hadjar Dewantara Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani itu juga konteksnya depan-belakang, bukan atas-bawah. Rapat ini ala Piagam Madinah di mana kesepakatan-kesepakatan dirumuskan bukan oleh kaum intelektual, melainkan oleh para pelaku komunitas dan perdagangan.”

EDITOR: Abi Mirza

Facebook Comments

POST A COMMENT.