4 Perilaku Ini Bisa Kurangi Risiko Kanker 30%

MEPNews.id – Para peneliti menemukan, sekitar 30 persen diagnosa kanker baru dan 50% dari semua kematian akibat kanker di Amerika Serikat sebenarnya dapat dihindari. Wah, itu jumlah yang lumayan banyak.

Apa rahasianya?

Berita di voxmedia.com yang diperbarui Julia Belluz pada 4 Februari 2017 mengabarkan, rahasia paling jelas adalah tidak pernah merokok atau berhenti merokok. Selain itu, para peneliti juga menemukan tiga faktor gaya hidup lain yang berpengaruh besar. Jangan mengkonsumsi alkohol, jaga berat badan yang sehat, dan rajin berolahraga.

Dalam kertas kerja yang dimuat di JAMA Oncology edisi 2016, para peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health dan Harvard Medical School menggunakan data dari dua penelitian kohort besar yakni Nurses ‘Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study. Mereka menilai bagaimana faktor-faktor gaya hidup terkait pada risiko kanker seseorang.

Untuk menilai risiko kanker, para peneliti membagi peserta ke dalam kelompok berisiko rendah dan berisiko tinggi berdasarkan empat faktor risiko kanker: merokok, konsumsi alkohol, indeks massa tubuh (untuk mengukur kelebihan berat badan dan obesitas), dan aktivitas fisik.

Kelompok berisiko rendah terdiri dari orang-orang yang tidak pernah merokok atau hanya merokok beberapa saat, dan orang tidak minum alkohol atau hanya sejumlah kecil alkohol. Kelompok ini juga termasuk orang dengan BMI antara 18,5 dan 27,5, dan orang-orang yang berolahraga keras selama 75 menit atau berolahraga sedang selama 150 menit per minggu. Kelompok berisiko tinggi terdiri dari semua orang yang tidak memenuhi kriteria di atas.

Hasilnya, untuk setiap jenis kanker yang diteliti, kelompok berisiko tinggi memiliki peluang lebih besar untuk didiagnosis kanker jika dibandingkan dengan kelompok berisiko rendah. Hal ini terutama berlaku bagi penyakit yang berhubungan dengan merokok dan minum alkohol, antara lain kanker paru-paru, kanker kerongkongan, dan kanker orofaringeal. Orang dengan perilaku berisiko tinggi umumnya memiliki hasil lebih buruk terhadap kanker.

Meski demikian, ada beberapa keterbatasan dari penelitian ini. Para responden penelitian kohort ini berkulit putih. Padahal, ada perbedaan penting dalam diagnosis dan pengalaman jenis kanker di antara kelompok ras. Populasi penelitian juga terdiri dari para profesional kesehatan, yang umumnya memiliki gaya hidup lebih sehat daripada penduduk pada umumnya.

Yang pasti, penelitian ini sependapat dengan sejumlah studi epidemiologi serupa lainnya yang telah dilakukan. “Pesan besarnya adalah sejumlah besar kasus kanker dan kematian akibat kanker di Amerika Serikat dapat dicegah dengan modifikasi gaya hidup,” kata peneliti utama Harvard, Mingyang Song. “Penelitian ini juga menyediakan dukungan kuat terhadap pentingnya faktor lingkungan bagi risiko kanker, dan menjadi pengingat bahwa banyak jenis kanker memang bisa dicegah.”(*)

Facebook Comments

POST A COMMENT.