Korban Banjir Bima Juga Butuh Seragam Sekolah

Keluarga korban banjir Bima ini menikmatinasi bungkus bantuan para dermawan. (foto; Aksi Cepat Tanggap, via Instagram @actforhumanity)

MEPNews.id – Banjir bandang di sisi timur pulau Sumbawa di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memang sudah mulai surut. Namun, bencana ini masih menyisakan puing dan korban yang butuh bantuan. Banyak murid membutuhkan bantuan seragam sekolah. Untungnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) siap memperbaiki sekolah yang rusak.

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) NTB, Muhammad Irfan, di Bima, mengatakan telah diminta Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud, melakukan pendataan seluruh sekolah yang terdampak banjir. “Data dan informasi ini akan kami laporkan ke Kemendikbud untuk ditindaklanjuti,” katanya, dikutip Antara, 26 Desember 2016.

Menurutnya, banjir bandang di Kota Bima dan Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, menyebabkan sejumlah sekolah terendam dan rusak fisik. Ada juga peralatan elektronik pendukung kegiatan belajar yang rusak. “Kami ingin memastikan mana saja sekolah yang terkenda dampak banjir. Tim LPMP akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah,” ujarnya.

Selain mendata sekolah, rombongan tim dari LPMP NTB juga menyerahkan bantuan logistik baju baru, air mineral, mi instan dan 20 karung beras. Bantuan untuk korban banjir dibeli dari dana yang dihimpun dari seluruh pegawai LPMP NTB. “Kami juga menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp15 juta dari Paguyuban Kepala LPMP se-Indonesia,” ucap Irfan.

Kota Bima dan Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, diterjang banjir bandang pada 21 Desember. Banjir bandang kembali terjadi di Bima pada 23 Desember sekitar pukul 12.30 Wita. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB, 105.758 jiwa penduduk di Kota Bima terkena dampak banjir bandang.

Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Joko Jumadi, mengatakan anak-anak korban banjir tidak hanya butuh makanan tapi juga seragam dan peralatan sekolah. “Bantuan yang masuk lebih banyak bahan makanan. Tapi, bantuan berupa seragam dan peralatan sekolah boleh dibilang belum ada.”

Bantuan yang juga masih minim, menurut Joko, adalah kebutuhan untuk wanita. Misalnya, pakaian dalam dan pembalut. “Ini harus menjadi perhatian kita semua, baik para donatur maupun pemerintah,” ujarnya, dikutip Antara 26 Desember.

LPA Kota Mataram sudah menyalurkan bantuan logistik ke lokasi bencana. Sebagian besar bantuan tersebut jenisnya adalah kebutuhan untuk anak-anak, seperti susu, pampers dan bubur. Ada juga kebutuhan untuk perempuan, seperti pakaian dalam dan pembalut. “Bantuan tersebut dibeli menggunakan dana yang terkumpul dari masyarakat melalui LPA,” katanya.

Facebook Comments

POST A COMMENT.