Anak, Selain Peniru yang Ulung juga Pembuat Generalisasi yang Hebat

MEPNews.id —- Rupanya kepagian kami mengunjungi pusat perbelanjaan di daerah kami.
“Wong belum buka, kok sudah banyak yang parkir ya, Dik?” Tanya saya asal saja kepada juru parkir di situ, melihat pelataran parkir banyak kendaraan.
“Oh, itu motornya bapak bapak yang selingkuh”. Jawabnya malu-malu.Kami terdiam. Saya mengangguk saja.
“Banyak ya, yang selingkuh di sini”. Tiba-tiba Sulung saya yang saat itu kelas 2 MI nyeletuk mengetahui kendaraan yang berdatangan untuk parkir bartambah banyak.

Abinya refleks ,”Omy, tidak baik ngomong begitu”.
Sulung saya diam sejenak seolah bingung tiba-tiba abinya berkata dengan nada tinggi.

“Kakak, ‘selingkuh’ itu abinya atau uminya tidak saling menyayangi. Bisa abinya yang tidak sayang, atau uminya yang tidak sayang..”. Saya menjelaskan dengan hati-hati. Dia diam, mungkin berpikir atau apalah. Sejak saat ia tidak ada lagi bahas selingkuh, mungkin ia sudah paham dengan pemahamannya sendiri tentunya.

Begitu juga saat ia masih TK. Teman-temannya main ke rumah.
“Kan ada jajan di toples yang disiapkan umi di meja,Kak”. Saya agak terkejut dan merasa kehilangan setoples jajan hari raya untuk persediaan tamu.Terlebih kondisi ekonomi kami belum stabil waktu itu, benar-benar kehilangan rasanya.

“Jajan di meja sudah melempem,katanya bu guru, memberi ke orang lain dengan yang baik-baik, ya kakak ambil jajan yang disimpan di lemari…”
Ah.. tidak jadi marah akhirnya, walau ada yang hilang, tapi apologi lugunya itu sungguh mengingatkan saya tentang berbuat baik yang tulus.

Tidak jauh berbeda dengan kakaknya, adiknya juga demikan. Sore tadi ia mengingatkan saya agar dibelikan sepeda berdinamo, tenaga penggerkanya dengan listrik jika ia rangking 1.
“Ya tidak cuma rangking 1, Adik juga mau dikhitan kelas 4 nanti”. Saya merespon singkat.
“Umi pernah ngomong kalau umi selalu mengikuti aturan yang dibuat abi, itu tadi abi bilang kalau adik rangking 1 akan dibelikan sepeda ‘ces-cesan’… “Waduh, mungkin abi sangat senang saat mengetahui bungsu kami peringkat kelasnya meningkat dari peringkat 12 pada kelas 2 yang lalu, siang tadi raportnya menginformasikan ia dapat ranking 9.
Beliau memberi apresiasi sekaligus memotivasinya untuk terus dapat meningkatkan prestasi sekolahnya, dan saya belum tau itu.
“Baiklah, doakan rezeki kita bertambah barokah,agar umi dan abi bisa membelikan adik sepeda ces-cesan …”
Saya menyerah, alasannya tidak patut untuk disanggah lagi. Saya mati kutu dengan pola pikirnya yang menggeneralisasikan ketetapan saya sendiri ‘umi mengikuti aturan apapun yang dibuat abi’.***

Catatan : Bunda Astatik Bestari


 

Facebook Comments

POST A COMMENT.