Siang Bikin Kapal, Malam Mengaji

MEPNews.id – Sejumlah remaja berseragam merah dengan helm proyek, menghadap lempengan aluminium, mengambil posisi agak jongkok, tangan menggenggam las. Lalu, ada cahaya putih menyilaukan dan sesekali ada semburat bara merah. Sesaat kemudian, lempeng aluminium menempel di tubuh kapal.

smk-sunan-drajatt

Pembuatan kapal sekelas tug boat di galangan milik PT Tri Ratna Diesel Indonesia.

Pemandangan semacam ini tampak hampir setiap hari di Galangan Kapal Santosa Marine milik PT Tri Ratna Diesel Indonesia di Desa Tunggul, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Tujuh belas siswa SMK Sunan Drajat bekerja tandem dengan puluhan karyawan galangan. Bekerja seperti pekerja beneran.

Selain urusan mengelas, para siswa ini juga membantu pengerjaan bidang-bidang lain. Misalnya, memasang pipa yang tidak boleh bocor, memasang piranti elektronik yang tidak boleh keliru, menata perlengkapan kayu hingga rapi, melakukan pengecatan sesuai permintaan konsumen, memastikan keamanan dan pengamanan, dan hampir semua aktivitas pembuatan kapal.

Bahkan, meski belum mendapatkan surat izin resmi, para remaja ini ada yang sudah bisa nyetir forklift, bulldozer, excavator dan sejumlah alat berat lainnya. Mungkin belum sangat ahli, tapi setidaknya mereka sudah pernah menjajal dan punya pengalaman.

“Kerjanya ya seperti begini. Setiap hari, kecuali Sabtu sampai jam 12 siang dan Minggu libur,” kata Ahmad R. Rif’an, siswa asal Tuban. “Siang sampai sore membantu kerja. Setelah Maghrib kami mengaji di mess yang sekaligus jadi tempat belajar.”

H. Budi Santosa, warga Desa Tunggul, pengajar di Pondok Pesantren Sunan Drajat yang ditugasi mendampingi siswa SMK magang di galangan, menjelaskan tiga bagian pendidikan SMK Sunan Drajat; kurikulum standar SMK yang dipadatkan, bimbingan mental setiap saat, dan setahun penuh magang di galangan. “Dengan setahun magang, siswa paham betul cara bekerja dan mentalitas bekerja.”

Meski magang, ternyata tidak gampang. Dari satu kelas yang dikirim, sejumlah siswa ‘terpaksa’ dikembalikan ke pondok karena tidak memenuhi persyaratan. Maka, hingga berita ini diturunkan, tinggal 17 yang bertahan digembleng di galangan. Yang tersisa ini antara lain siswa dari Malang, Tuban, hingga Sumbawa.

Budi Santosa, pemilik PT Agrindo yang mengelola galangan, siap membantu siswa magang mencapai skill tertinggi. “Selain berlatih dan bekerja di galangan, kami bantu anak-anak untuk mendapatkan sertifikat profesi. Belum sampai setahun magang kerja, sudah ada dua yang mendapat sertifikat untuk welding (las) dan satu untuk safety (keselamatan kerja). Jika sudah punya sertifikat industri, orang bisa lebih laku di pasar tenaga kerja bahkan di level internasional.”

Salah seorang siswa asal Malang mengaku ingin menerima tawaran ke Jepang. Selain untuk menambah penghasilan uang, ia juga ingin memperdalam ketrampilannya dan ilmu pengetahuannya. Siswa ini termasuk dari jajaran angkatan pertama SMK Sunan Drajat yang berhasil membantu membuat kapal besar.

Yang mereka hasilkan adalah dua kapal patroli pesanan Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP). Kapal sepanjang lebih dari 20 meter ini sudah diceburkan di perairan Paciran, dan sedang menjalani finisihing touch sebelum diserahkan pada pemesan. (tom)

Facebook Comments

POST A COMMENT.