Well… Good Strategy Demi Skateboard Baru

Catatan Bunda Echa (6)
Menjadi seorang ibu sekaligus menjadi wanita karier yang harus bekerja professional diluar rumah, bukanlah pekerjaan mudah. Maka, belajar pada orang yang menjalani, adalah sebuah ilmu yang mengalir deras. Mulai hari ini dan seterusnya, Ibu Ami Haris, pekerja profesioal dan ibu satu anak ini, menulis untuk MEPNews.id , hal hal sederhana, ringan, tetapi sarat makna. (redaksi) *
MEPNews.id – Dulu, Saya sempat dibuat galau oleh keinginan buah hati semata wayangku. Kala itu, Echa masih berusia 10 tahun. Di usia itu, tiba-tiba Echa ngotot minta dibelikan skateboard baru. Bukan karena Saya tak ingin membelikan. Namun semata karena Saya melihat skateboard lama yang sudah kami belikan dua tahun lalu, kondisinya masih layak untuk dipakai.
Sayangnya, walau berkali-kali kuberi penjelasan, anak saya ini masih tetap saja ngotot beli skateboard impiannya. Menurutnya, skateboard lamanya sudah tak nyaman digunakan. Selain papannya sudah mulai licin, rodanya juga mulai ‘seret’ katanya.
Terus terang, saya kurang paham soal skateboard. Salah satu yang membuat Saya enggan untuk mengabulkan keinginan Echa kali ini adalah, karena aku ingin memegang janji kami berdua.
Dua tahun sebelumnya, ketika Echa pertama kali punya skateboard baru, Saya sudah wanti-wanti bahwa aku tak mau membelikan dia skateboard lagi. Kecuali dia membelinya dengan usaha sendiri. Entah itu menabung atau mendapat hadiah dari sebuah kompetisi.
Yang juga membuat Saya agak keberatan untuk membelikan skateboard baru adalah, selama ini Echa tidak begitu rajin bermain skateboard. Tapi, belakangan dia menjadi lebih rajin main skateboard karena salah satu anak tetangga kami baru saja membeli skateboard baru. Dampak positifnya memang, Echa menjadi punya teman untuk bermain skateboard bersama. Namun, dampak lainnya, dia minta dibelikan skateboard yang sama persis dengan teman-temannya tersebut.
Hingga pada hari itu, Echa menggebu-gebu minta dibelikan skateboard baru. Saya pun kembali mengingatkan agar dia nabung saja agar bisa mewujudkan skatboard impiannya. Lagi-lagi Echa kembali tak terima. Setiap dia ingat, dia selalu menanyakan kapan aku akan membelikan skateboard baru.
Sampai suatu ketika, dia menelepon dan memaksaku untuk membelikan skateboard baru. Padahal, kala itu, posisi saya sedang dalam meeting di kantor tempat aku bekerja. Tak berhasil merajuk di telepon, buah hatiku yang makin besar ini pun mengirim BBM bertubi-tubi minta dibelikan skateboard. “Pokoknya nanti malam beli” begitu tulisnya hingga puluhan kali di BBM.
Saya pun berusaha menahan diri. Saya bilang sabar. Nabung dulu. Tapi tetap saja Echa tak terima. Dia pun menentukan hari untuk membeli skateboard. “Kalau nggak nanti malam. Sabtu beli,” begitu tulisnya. Lagi-lagi aku berusaha menahan diri untuk tidak langsung mengabulkan permintaan Echa.
Sebenarnya, bagi wanita karir seperti saya, yang punya kesibukan lebih banyak di luar rumah, membuat saya gampang ‘tidak tega’ pada anak. Seharian tak bertemu, membuat saya ingin selalu mengabulkan apapun keinginan anak asal ia bergembira. Hal ini saya lakukan karena saya ingin menebus kesalahan karena telah meninggalkan anak saya untuk waktu yang lama.
Siapa sangka, ternyata Echa benar-benar menabung untuk bisa beli skateboard baru. Bahkan, demi sebuah skateboard baru, Echa memaksa saya untuk mencarikan informasi lomba-lomba dengan kompetensi yang ia bisa. “Bu, aku carikan lomba adzan dan tartil. Soalnya aku mau ikut,” itu katanya.
Alhamdulillah, di beberapa lomba tersebut, Echa memang sangat sering bahkan selalu menang dalam kompetisi tersebut. Jika menang lomba, tentu saja hadiahnya tak hanya tropi dan piagam tapi juga uang tunai dan bingkisan.
Kembali ke keinginan Echa untuk mengikuti lomba-lomba tersebut. Awalnya saya anggap dia memang sedang rindu untuk ikut lomba lagi. Namun, belakangan, akhirnya saya tahu, Echa ingin ikut lomba tersebut karena memang sedang mengincar hadiahnya.
Rencananya, hadiah uang tunai yang akan dia terima akan dibuatnya untuk membeli skateboard. Oalah Echa….
Saya sempat geli mendengar alasan ini. Iya kalau menang, kalau kalah di lomba tersebut gimana?
Dan ternyata, Echa memang menang lomba. Walau menduduki juara tiga, tapi dia tetap bisa mendapatkan hadiah uang tunai yang kemudian ia tabung untuk membeli skateboard baru. Well…good strategy Echa…. *IG/twitter: aimeeharis

Ilustrasi foto : Youtube

Article Tags

Facebook Comments

POST A COMMENT.