Bersiap Menghadapi ‘Sarang Kosong’

MEPNews.id – Ini terjadi pada sebagian sangat besar manusia. Mau tak mau keadaan ini kita lakukan atau kita terima. Ya, kita pernah meninggalkan rumah dan suatu saat nanti kita akan ditinggalkan sendiri di rumah. Rumah kosong.

Ada istilah empty nest syndrome dalam psikologi. Syndrome itu artinya tanda-tanda atau gejala. Nest itu sarang burung. Empty berarti kosong. Sarang dibuat induk burung untuk bertelur, mengerami, dan membesarkan anaknya. Si anak burung, setelah besar dan bisa terbang, segera pergi meninggalkan sarang dan induknya. Sarangnya jadi kosong. Ini gambaran ‘sindrom sarang kosong’ bagi manusia.

Maka, istilah empty nest syndrome menggambarkan rasa kesedihan atau kehilangan di kalangan orang tua saat anak mereka meninggalkan rumah keluarga untuk waktu agak atau sangat lama. Untuk tujuan berbeda, makna istilah ini lalu dikembangkan menjadi ‘perasaan anak-anak yang ditinggalkan orang tua di tempat penitipan anak’ atau ‘perasaan orang tua yang dititipkan di panti jompo’.

Hidup ini penuh perubahan yang direncanakan maupun yang tak terduga. Namun, transisi dari rumah penuh menjadi ‘sarang kosong’ termasuk perubahan yang hampir pasti dialami semua orang tua. Maka, belajar untuk menghadapi hidup di ‘sarang kosong’ adalah salah satu bagian dari perjalanan mematangkan diri menjadi orang tua.

Perubahan terjadi ketika anak datang, dan pasti juga terjadi ketika anak harus pergi. Seringkali, datangnya anak disambut gembira dan perginya anak disambut dengan perasaan sedih atau kosong. Maka, mempersiapkan mental untuk mengantisipasi perginya anak dari rumah itu jauh lebih lebih baik daripada terbenam dalam perasaan ‘sarang kosong’. Jika dipersiapkan dengan baik, perginya anak-anak bisa menumbuhkan suasana baru yang tak kalah positif.

Anggap saja orang bisa hidup sampai 75 tahun dan mulai memiliki anak saat 25 tahun. Dengan hitungan sederhana, anak sulung sudah berusia 50 saat orang tua mati. Ini menunjukkan, orang tua masih mungkin hidup dan sehat untuk menyaksikan anak-anak memasuki usia dewasa dan sukses menjadi orang tua generasi berikut. Yang penting, hubungan tetap terpelihara.

Normal jika orang tua merasa sedih saat anak-anak pindah rumah. Setelah terbiasa menghabiskan waktu bersama hampir setiap hari selama belasan atau 20 tahun lebih, tentu ada perasaan kehilangan dan kekosongan –bahkan depresi dan kecemasan. Perasaan kehilangan sering dimulai ketika anak pertama meninggalkan rumah.

Tapi, jangan biarkan perasaan itu berlama-lama. Maka, orang tua bisa segera meingkatkan hubungan dengan pasangan, membina kontak dengan keluarga dekat, tetangga, teman-teman, atau komunitas. Bisa juga bergaul dengan sesama orang yang ditinggal anak. Berbagi dengan orang yang punya masalah sama akan bisa mengurangi perasaan depresi. Bisa juga sesekali konsultasi dengan pakar kesehatan jika diperlukan.

Akan lebih sehat jika orang membuka hati dengan ikhlas untuk melepas anak-anak menjalani kehidupan masing-masing. Ambil sisi positif dari ruang dan waktu yang kosong setelah ditinggalkan anak-anak. Pada masa transisi ‘sarang kosong’ ini, waktu dan ruang yang kosong bisa diisi dengan meningkatkan kembali hubungan dengan pasangan, mengerjakan-hal-hal yang biasanya terbengkelai, memikirkan kemungkinan bisnis baru, dan lain-lain.

Beberapa orang tua yang hidup di ‘sarang kosong’ bisa menjadi terbiasa dengan rutinitas baru. Suparno, kelahiran 1937, setelah lama pensiunan sebagai dokter bedah di RSUD Pandan Arang di Boyolali, gemar memelihara kebun durian. Ketika kelima anaknya sudah membina rumah tangga dan bekerja di luar Boyolali, Suparno tetap punya kesibukan merawat, memanen, mengolah, menjual durian.

Yang lain bisa juga kembali latihan sepak bola, menjadi relawan di sekolah, travelling ke tempat-tempat yang dulu belum pernah dikunjungi, dan lain-lain. Mereka memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk diri sendiri. Pada tahap ini, orang tua bisa memikirkan dan menemukan kembali minat dan dunia sekitarnya.

Susah keluar jauh rumah? Jangan khawatir, teknologi zaman sekarang memungkinkan orang berkomunikasi dan membina jaringan tanpa jauh-jauh meninggalkan kamar. Orang tua boleh berlajar pada anak-anak lebih muda untuk memanfaatkan jejaring sosial. Ada telepon cerdas, ada Facebook, ada Skype atau situs online situs berbagi foto. Media sosial semacam ini bisa memperbarui semangat dan wawasan orang tua yang menikmati hidup sendiri di sarang yang telah ditinggalkan anak-anaknya. (Esti Purwitasari)

Foto; Sarang burung yang sudah kosong, oleh Karen G. A. via Instagram @kazgaw

Facebook Comments

POST A COMMENT.