Ingin Jadi Pilot? Ke Banyuwangi Saja!

Cockpit pesawat

Cockpit pesawat

MEPNews.id – Ada tiga sekolah pilot di Banyuwangi. Kementerian Perhubungan punya sekolah pilot negeri Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang (LP3B). Lainnya, milik swasta yakni Mandiri Utama Flight Academy (MUFA) dan Bali International Flight Academy (BIFA).

Sejak lima tahun terakhir, ketiganya meluluskan 534 penerbang yang kini bekerja di berbagai maskapai. Pada 22 November 2016, misalnya, enam pilot lulus dari MUFA. Wisudawan angkatan kedua ini Daniest Satriady, M. Farhan Al Fauzi, Lutfi Rizkiansyah, Winaufal Zharfan, Maulana Rohman Sidiq, dan Wenny Rhametry Syahrir.

Dalam rangkaian wisuda bagi lulusan yang menyelesaikan program Commercial Pilot License (CPL) atau mengantongi 210 jam terbang dalam satu tahun, ada acara mengajak orang tua terbang (joy flight ) 30 menit di seputar Bandara Blimbingsari. “MUFA satu-satunya sekolah pilot yang mengajak orang tua terbang bersama anak lulusannya,” kata Captain Erwin Wahyuono, instruktur MUFA yang mengantongi 7.500 jam terbang, dikutip Skalanews.

Kebutuhan akan penerbang semakin hari semakin meningkat. Itu seiring dengan meningkatnya jumlah maskapai dan rute penerbangan. Indonesia butuh setidaknya 800 pilot per tahun. Untuk kawasan Asia, kebutuhannya mencapai 185 ribu pilot hingga 2031.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, dikutip merdeka.com, 24 November 2016, mengatakan, “Keberadaan sekolah pilot ini sangat relevan untuk menyiapkan sumber daya manusia penerbang andal di tengah semakin berkembangnya industri penerbangan nasional.”

Anas menambahkan, pengembangan sekolah pilot juga menggerakkan perekonomian di daerahnya. Ratusan taruna dan keluarganya membutuhkan akomodasi saat berkunjung ke Banyuwangi sehingga bisa meningkatkan permintaan jasa kuliner, transportasi, suvenir, dan hotel.

Selain itu, sekolah pilot juga menyediakan beasiswa bagi anak muda Banyuwangi. Melalui sinergi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, MUFA menyeleksi anak muda dari keluarga kurang mampu namun mempunyai kualifikasi untuk dididik menjadi pilot. “Seleksi digelar di Banyuwangi dan Jakarta dengan semua biaya ditanggung,” ujar Anas.

Bea siswa itu dipastikan lewat penandatanganan MoU oleh Bupati Banyuwangi dengan Direktur Utama MUFA, Dhany Rachman Adiwijaya, pada 23 November 2016. Isinya antara lain pemberian beasiswa bagi siswa yatim berprestasi penghafal Al-Qur’an 30 juz dan dari keluarga kurang mampu namun mempunyai keinginan kuat jadi pilot. Beasiswa ini tanpa menggunakan dana APBD.

“Kami tanggung seluruh biayanya. Mulai biaya hidup hingga biaya pendidikan sampai tamat. Jadi sekolah pilot tidak hanya bisa diakses anak orang kaya. Anak dari keluarga kurang mampu pun memiliki kesempatan sama, asal berprestasi dan memenuhi persyaratan,” kata Dhany dikutip Tribun Banyuwangi.

Beasiswa ini terbuka bagi pemuda berusia 18-25 tahun, pendidikan minimal SMA, tidak buta warna, dan mampu berbahasa Inggris aktif yang dibuktikan dengan TOEIC 600. “Seleksi awal dilakukan di Banyuwangi oleh Pemda, meliputi administrasi dan hafalan Al-Qur’an. Tiga pemegang nilai teratas dilaporkan ke kami untuk seleksi lanjutan di Jakarta,” terang Dhany. (*)

Foto; Roselynn via instagram @pilotrosie

Facebook Comments

POST A COMMENT.