Bocah Sekecil Ini Sudah Jadi Wartawan Perang

MEPNews.id – Usia 10 menjelang 11 tahun. Di Indonesia, anak seusia itu mungkin sedang aman terlindung di rumah orang tua atau belajar di sekolah atau bermain bersama teman. Di Palestina, Janna sudah menyaksikan dan mengabarkan intifadha bangsanya dan ketidak-adilan serta kekejaman Israel.

Janna Jihad Ayyad memang bukan anak biasa. Dalam usianya yang belia, ia sudah punya misi hidup sangat jelas. Ia berkeyakinan, sudah menjadi tugasnya untuk merekam dan mengabarkan ketidak-adilan yang dilakukan Israel di daerah pendudukan Tepi Barat dan lainnya.

Maka, saat ada demo orang Palestina di Tepi Barat, ia segera menenteng kamera ke garis depan. Ia merekam aksi itu lalu menyebarkannya agar dilihat di dunia yang lebih luas. Ia memanfaatkan berbagai media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan rakyat Palestina.

Beberapa aksinya direkam wartawan lain dan diunggah Youtube. Aktivis medsos lain lalu menyebarkannya. Janna sendiri punya situs resmi meski isinya sering ‘hilang’. Di Facebook, ia punya lebih dari 25.000 follower. Tak pelak, Janna melejit menjadi ‘suara anak-anak Palestina’.

Karyanya diendus berbagai media internasional. Setidaknya, profil Janna beberapa saat lalu muncul di Vice dan di Al Jazeera. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Janna mengaku, “Tidak banyak wartawan mengirimkan berita langsung dari Palestina. Karena itu, mengapa tidak saya sendiri yang melakukannya dan menunjukkan pada dunia apa yang terjadi di desa saya?”

Janna sudah cukup lama malang-melintang di bidang jurnalistik. Ia sudah memulai reportase sejak usia 7 tahun. “Kala itu tidak ada wartawan yang meliput. Kerabat saya terbunuh, dan banyak orang lain terluka, lalu yang sehat ditangkapi Israel. Semua berlangsung begitu saja, tak ada seorang pun memberitakan,” begitu pengakuan Janna tentang saat awal memantapkan niatnya menjadi wartawan. Ia merujuk pada sepupunya, Mustafa, yang tewas karena ledakan gas air mata. Pamannya, yakni ayah Mustafa, yang bernama Rushdie Tamimi, tewas karena tertembak di perut kena ginjal.

Bukan kebetulan jika Janna tertarik pada jagad jurnalistik. Ia punya paman fotografer bernama Bilal yang sering memotret kekerasan tentara Israel di desa Nabi Saleh tempat mereka tinggal. Belajar dari kamera pamannya, Janna suka membuat video. Maka, ia mulai berkeliling desa menggunakan iPhone milik ibunya untuk membuat video. Sekarang, ia menjelajah berbagai kawasan di Palestina dan bahkan menyeberang ke Jordania.

Dengan tubuh bocah, apa tidak berbahaya melaporkan berita dari medan perang? Janna mengaku tubuh mungilnya justru keberuntungan. “Saya mudah menembus ke mana saja. Tentara Israel menangkapi wartawan dewasa dan merampas kameranya. Tapi saya dan kamera sering lolos penangkapan. Padahal, kamera saya lebih tajam daripada peluru senapan mereka.”

Ia pernah meliput demo orang-orang Palestina yang disapu bersih tentara Israel. Tentara Israel menembakkan sejumlah kaleng gas air mata. Tak lama, asap putih pekat memedihkan mata dan menyesakkan nafas pun mengepul tebal. Para demonstran dan wartawan bubar menyelamatkan diri. Namun, Janna sudah berpengalaman dengan kejadian semacam ini. Di tasnya ada kain lembab untuk mengurangi efek gas air mata di wajahnya.

Dalam suatu video, tergambar dampak kebrutalan tentara Israel terhadap pnduduk Tepi Barat di Palestina. Janna berdiri di samping anak lelaki seusianya yang berbaring tak berkerak di tanah. “Ia terkena ledakan roket,” begitu Janna melaporkan lewat beritanya.

Tentu bukan hanya faktor usia yang membuat Janna memikat dunia, tapi juga kemampuannya. Ia tidak hanya melaporkan berita dalam Bahasa Arab seperti yang digunakan di Palestina dan Timur Tengah lainnya. Ia juga memproduksi materi berita dalam Bahasa Inggris yang ia pelajari di sekolah. “Saya menggunakan Bahasa Inggris karena banyak penggunanya. Saya ingin menyampaikan pesan dari Palestina pada seluruh dunia lewat Bahasa Inggris,” begitu alasan dia.

Meski menjadi pejuang kemanusiaan di negerinya, Janna tidak melupakan sekolah. Saat ini ia duduk di kelas 4 SD. Janna serius dengan sekolahnya, sehingga nyaris tidak pernah membolos. Ia memanfaatkan waktu usai sekolah untuk membuat video atau menulis di blog. “Setelah sekolah, saya bisa pergi dan mencari berita dari desa ke desa atau ke mana saja. Tapi, masa depan saya tetap ada di sekolah,” kata Janna.

Pesan yang ingin disampikan Janna hanya satu; perdamaian. “Tuhan telah menjanjikan Palestina akan merdeka suatu saat nanti. Saya harap perdamain segera datang dan Palestina menjadi seperti negara-negara lain di dunia ini,” kata Janna.(tom)

Foto; People Greece

Facebook Comments

POST A COMMENT.