Anak Picisan Membaca, Catatan Relawan Literasi Pena Ananda Tulungagung

MEPNews.id
Cuaca sangat cerah ketika rombongan Relawan Literasi Bonorowo, yang dimotori Pena Ananda Club, melaju ke salah satu desa di lereng Gunung Wilis. Desa Picisan Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung, salah satu desa yang tengah mengembangkan diri menjadi desa wisata. Itu berarti seluruh warga Desa Picisan (yang terdiri dari 11 dusun) sudah selayaknya bersiap diri untuk membuka diri dengan segala konsekuensinya. Wacana ini menggugah gerakan literasi Pena Ananda Club. Sehingga setelah berkoordinasi dengan pihak Desa Picisan dan pegiat desa (Pairanto), terwujudlah Pesta Baca dan Kreasi Anak Pegunungan hari ini, sebagai cikal bakal kegiatan-kegiatan budaya baca yang dimulai bagi anak-anak di Desa Picisan.
Hari ini, Minggu, 20/11, Relawan Literasi Bonorowo mengajak anak-anak khusus Dusun Picisan Desa Picisan untuk mengenal buku secara lebih dekat. Dengan buku mereka bisa mengenal banyak hal tentang sekeliling mereka, hutan dan lingkungannya yang kaya sumber daya alam. Beberapa anak dengan antusias membaca buku tentang gempa, banjir, longsor, keindahan alam, dan lain sebagainya. Buku-buku dan majalah itu kami serahkan sebagai shadaqah dari para donator yang dilewatkan Pena Ananda Club dan Keluarga 8 (komunitas alumni Kelas Inspirasi).
Selama lebih dari 3 jam, 48 anak setingkat SD-SMP ini bersama dengan kaka-kakak relawan membaca, mendiskusikan isi bacaan, menggambar hal yang paling disukai, diminati, dicitakan, menulis bait-bait puisi dan membacakannya. Satu dua anak berani tampil untuk mendongeng spontan bersama bunda Anis, ayah Siwi, dan Bunda Zakyzahra secara bergantian. Dongeng yang dibawakannya pun spontan dengan memanfaatkan boneka-boneka yang bunda bawa.

ssss
Budaya literasi (yang berarti hidupnya budaya belajar sepanjang hayat) ini Pena Ananda Club dorong agar anak-anak memiliki kesiapan juga dalam menyongsong masa depannya yang semakin penuh tantangan. Salah satu tantangannya adalah teknologi internet dan wacana keterbukaan desa sebagai desa wisata yang menuntut anak-anak agar siap untuk menjadi tuan di desanya sendiri.
Pairanto mengajak anak-anak untuk bersama belajar untuk belajar dan berorganisasi. Maka di penghujung acara, mereka membentuk tim koordinasi layaknya sebuah organisasi, dengan adanya ketua, sekretaris dan bendahara. Mereka pun sepakat untuk setiap hari Minggu berkegiatan di Wahana Baca ini. Pairanto, sebagai penggerak desa, menyemangati anak-anak, bahwa kegiatan yang mereka mulai ini kelak akan semakin berkembang dengan bermacam ragam selain membaca. Mereka menutup hari pertama berliterasi dengan yel-yel harapan: anak Picisan, anak pegunungan, memiliki kemampuan dan kecerdasan sebagaimana anak-anak yang hidup di kota.
(Tjut Zakiyah Anshari – PENA ANANDA CLUB, Tulungagung)

Facebook Comments

Website Comments

  1. arief s
    Reply

    Membaca adalah membuka jendela dunia
    Menulis memasuki imagi dan ekspresi diri
    Teruslah membaca dan menulis niscaya pandangan hidupmu akan meluas
    Salam berdesa

POST A COMMENT.