23 Tahun Padhangmbulan, Menanam Tiada Henti di Kebun Keindahan

MEPNEWS.ID
Kajian ilmu bulanan Padhangmbulan, Senin (14/11) malam, lain dari biasanya. Kalau biasanya diawali dengan tafsir Cak Fuad dan lanjut kajian kontekstual Cak Nun bersama Kyai Muzammil. Semalam justru Cak Nun memanggil semua kakak dan adiknya, 13 orang maju ke panggung.
“Malam ini saya ingin mengajak memfatehai perjalanan padangmbulan. Saya mengajak semua kakak dan adik saya untuk bicara dan memberikan kesaksian 23 tahun Padhangmbulan. Agar menjadi pembelajaran bagi jamaah Maiyah, “ tegas Cak Nun.

15032673_640584752779137_6469044123266411383_n15078922_640584796112466_1302091756348412123_n15107454_640584776112468_8625090692694975017_n15032247_640584876112458_1602504946879673681_n
Maka, disinilah Jamaah menemukan suasana haru. Satu persatu kakak dan adik Cak Nun (13 orang), 2 orang tidak bisa hadir karena sedang tugas ke Papua. Berbicara satu persatu dengan gaya dan model yang berbeda. Tetapi ada satu yang sama, mereka semua merasakan betapa apa yang dilakukan selama 23 tahun istiqomah melaksanakan Padhangmbulan (sebagai induk dan ibu puluhan komunitas dan kajian Maiyah diberbagai tempat ), adalah karena baktinya pada ayah (Muhammad) dan Ibunya (Halimah).
Jamaah Maiyah semalam dibuat haru, tatkala kesaksian kakak dan adik Cak Nun yang memberikan gambaran bahwa tidak ada niat sedikitpun mencari kebesaran, mencari ketenaran apalagi mencari kebanggaan. Semua saling rendah hati dan menjunjung tinggi melanjutkan jariyah ayah ibunya.
“Kami 13 orang dengan segala perbedaanya, namun menemukan satu titik utama. Gen ayah ibu kami telah menyatukan kami. Didalam langkah tidak berpedoman pada tujuan dunia dan akhirat semata. Karena bagi kami dalam dunia kami berakhirat. Dalam menggapai akhirat kami juga menjalani kehidupan dunia. Semuanya menyatu . Bagi kami menanam tiada henti di kebun keindahan ini,” tegas Cak Nun. (Imam Diwes)
Photo: DK/MEPNEWS.ID

Facebook Comments

POST A COMMENT.